Minggu, 06 Februari 2011

PENYULUHAN KESEHATAN PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS

PENDAHULUAN

Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita dan penyakit kronik yang 
serius di Indonesia saat ini. Setengah dari jumlah kasus Diabetes Mellitus (DM) tidak terdiagnosa 
karena pada umumnya diabetes tidak disertai gejala sampai terjadinya komplikasi. Prevalensi
penyakit diabetes meningkat karena terjadi perubahan gaya hidup, kenaikan jumlah kalori yang 
dimakan, kurangnya aktifitas fisik dan meningkatnya jumlah populasi manusia usia lanjut.
Dengan makin majunya keadaan sosio ekonomi masyarakat Indonesia serta pelayanan 
kesehatan yang makin baik dan merata, diperkirakan tingkat kejadian penyakit diabetes mellitus 
(DM) akan makin meningkat. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan sosio
ekonomi. Dari berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia di dapatkan prevalensi sebesar 1,5-
2,3 % pada penduduk usia lebih besar dari 15 tahun. Pada suatu penelitian di Manado
didapatkan prevalensi 6,1 %. Penelitian di Jakarta pada tahun 1993 menunjukkan prevalensi
5,7%.
Melihat pola pertambahan penduduk saat ini diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan 
ada sejumlah 178 juta penduduk berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi Diabetes 
Mellitus sebesar 2 %, akan  didapatkan 3,56 juta pasien Diabetes Mellitus, suatu jumlah yang 
besar untuk dapat ditanggani sendiri oleh para ahli DM. Oleh karena itu antisipasi untuk
mencegah dan menanggulangi timbulnya ledakan pasien DM ini harus sudah dimulai dari
sekarang.
Dalam hal antisipasi untuk pencegahan DM ini yang sangat perlu diperhatikan adalah
dengan memberikan penyuluhan kesehatan pada penderita Diabetes Mellitus.
Penyuluhan kesehatan pada penderita diabetes mellitus merupakan suatu hal yang amat penting 
dalam regulasi gula darah penderita DM dan mencegah atau setidaknya menghambat munculnya 
penyulit kronik maupun penyulit akut yang ditakuti oleh penderita. Dalam hal ini diperlukan
kerjasama yang baik antara penderita DM dan keluarganya dengan para pengelola/penyuluh
yang dapat terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi dan tenaga lain.
Untuk dapat menyuluh, dengan sendirinya para penyuluh harus benar-benar dapat
memahami dan menyadari pentingnya Pendidikan Kesehatan DM serta mampu menyusun serta 
menjelaskan materi penyuluhan yang hendak di sampaikan kepada pasien. Dalam penyampaian 
materi penyuluhan tersebut, fasilitator dapat memakai bermacam-macam sarana seperti
ceramah, seminar, diskusi kelompok dan sebagainya. Semuanya itu tujuannya untuk mengubah 
periakal (knowledge), perirasa (attitude) dan perilaku (behaviour). Perubahan perilaku inilah yang 
paling sukar dilaksanakan.
Penyuluhan diperlukan karena penyakit diabetes penyakit yang berhubungan dengan
gaya hidup. Pengobatan diabetes memerlukan keseimbangan antara beberapa kegiatan yang
merupakan bagian intergral dari kegiatan rutin sehari-hari seperti makan, tidur bekerja dan lainlain. Pengaturan jumlah serta jenis makanan serta olah raga oleh pasien serta keluarganya. 
Berhasilnya pengobatan diabetes tergantung pada kerja sama antara petugas kesehatan dengan 
pasien dan keluarganya. Pasien yang mempunyai pengetahuan cukup tentang diabetes,
kemudian selanjutnya mengubah perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya
sehingga ia dapat hidup lebih lama.
Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dengan memberikan penyuluhan diabetes
antara lain:
1. Agar pasien dapat hidup lebih lama dan dalam kebahagiaan. Kualitas hidup sudah merupakan 
kebutuhan bagi seseorang, bukan hanya kuantitas, seseorang yang bertahan hidup, tetapi 
dalam keadaan tidak sehat akan mengganggu kebahagiaan dan kestabilan keluarga.2. Untuk membantu pasien agar mereka dapat merawat dirinya sendiri, sehingga komplikasi
yang mungkin timbul dapat dikurangi, selain itu juga jumlah hari sakit dapat ditekan.
3. Agar pasien dapat berfungsi dan berperan sebaik-baiknya didalan masyarakat.
4. Agar penderita dapat lebih produktif dan bermanfaat.
5. Menekan biaya perawatan baik yang dikeluarkan secara pribadi, keluaraga ataupun secara 
nasional.
Penyuluhan diabetes Mellitus dapat dilakukan untuk pencegahan Primer, Sekunder dan 
Tersier. Adapun pada penyuluhan pencegahan Primer, dilakukan terhadap orang-orang yang
belum menderita DM tetapi potensial untuk menderita. Untuk pencegahan primer ini tentu saja 
kita harus mengenal faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya DM dan berusaha
mengeliminasi faktor tersebut.
Penyuluhan menjadi sangat penting fungsinya untuk mencapai tujuan ini. Masyarakat
secara menyeluruh dengan melalui lembaga swadaya Masyarakat dan lembaga sosial lainnya
harus diikutsertakan dalam usaha pencegahan primer. Demikian pula pemerintah melalui semua 
jajaran terkait baik pihak Departemen Kesehatan maupun Departemen Pendidikan, melalui usaha 
Pendidikan  Kesehatan yang harus dimulai sejak pra sekolah, misalnya dengan menekankan
pentingnya kegiatan jasmani yang teratur dan menjaga agar tidak gemuk serta pentingnya pola 
makan yang sehat. Kepada remaja perlu juga diinformasikan dan dijelaskan mengenai bahaya 
nya dampak yang ditimbulkan akibat merokok.
Penyuluhan dalam hal pencegahan sekunder adalah dalam mengelola pasien DM, sejak 
awal kita harus sudah waspada akan kemungkinan komplikasi-komplikasi kronik yang mungkin
timbul. Sejauh mungkin kita harus berusaha mencegah timbulnya komplikasi tersebut.
Penyuluhan mengenai DM dan pengelolaannya sangat penting untuk mendapatkan ketaatan
berobat pasien yang baik dan teratur. Pengaturan sistem rujukan yang baik menjadi sangat
penting untuk memback up pelayanan kesehatan primer yang merupakan ujung tombak
pengelolaan DM. Dengan demikian akan dapat diharapkan hasil pengelolaan yang sebaik-baiknya, 
apalagi bila ditunjang pula dengan adanya tata cara pengelolaan baku yang dapat menjadi
pegangan bagi para pengelola.
Pencegahan Tersier perlu dilakukan pada pasien DM, kalau komplikasi kronik DM ternyata 
timbul juga, sehingga dalam hal ini pihak pengelola harus mencegah terjadinya kecacatan lebih 
lanjut dengan usaha pengelolaan komplikasi sebaik-baiknya dan usaha merehabilitasi pasien
sedini mungkin sebelum kecacatan menjadi menetap dan tidak dapat lagi diperbaiki lagi.
METODA PENYULUHAN KESEHATAN
Sebelum mengetahui tentang metoda penyuluhan kesehatan, hendaknya diketahui
terlebih dahulu tentang tujuan yang akan dicapai, apakah akan merubah periakal (knowledge), 
perirasa (attitude) atau kah perilaku (behaviour). Dengan mengetahui sasarannya maka dapat 
dipilih kira-kira metode yang mana paling cocok:
Gambar 1. Macam sasaran dan metoda penyuluhan kesehatan yang cocok
PERIAKAL                         PERIRASA                                    PERILAKU
(Knowledge)                      (Attitude)                                       (Behavior)
- Ceramah                          - Diskusi Kelompok                     - Latihan Sendiri
- Seminar                         - Tanya jawab                               - Ikut asosiasi DM
- Tugas baca                    -  Film vidio                                 - Self monitoring
- Diskusi panel                - Bimbingan Penyuluhan
- Simposium
- Konferensi
Dari hal di atas untuk penyuluhan kesehatan penderita DM yang cocok adalah antara lain 
ceramah, diskusi kelompok, vidio, bimbingan penyuluhan, tanya jawab, monitor diri sendiri dan ikut menjadi anggota perkumpulan DM. Dengan sendirinya masing-masing cara ada keuntungan 
dan kerugiannya, dan metoda satu dan lainnya saling mempengaruhi, misalnya dengan diskusi 
kelompok sasaran utama adalah mengubah perirasa, tetapi dapat pula mempengaruhi periakal 
dan perilaku.
Tujuan penyuluhan diabetes mellitus   pada dasarnya adalah supaya meningkatkan
pengetahuan pasien terhadap penyakit yang dideritanya sehinga  pasien dapat mengendalikan 
penyakitnya dan mengontrol gula darah dalam keadaan mendekati normal dan dapat mencegah 
komplikasi.  Pada dasarnya tujuan edukasi pada diabetes adalah perawatan mandiri sehingga 
seakan-akan pasien menjadi dokternya sendiri dan juga mengetahui kapan harus berobat
kedokter untuk mendapatkan pengarahan yang lebih lanjut. Edukasi yang cukup akan
menghasilkan kontrol diabetes yang baik dan mencegah atau mengurangi perawatan dirumah
sakit. Sebagai contoh adalah pemeliharaan kaki yang baik akan mengurangi jumlah amputasi.
Sebelum memulai penyuluhan, sebaiknya dilakukan analisis mengenai pengetahuan
pas ien  tentang diabetes mellitus, sikap dan ketrampilannya. Demikian juga dengan mengetahui 
latar belakang sosial, asal-usul etnik, keadaan keuangannya, cara hidup, kebiasaan makan,
kepercayaan dan tingkat pendidikannya, edukasi akan lebih terarah dan lebih  berhasil.
Edukasi diabetes adalah suatu proses berkesinambungan dan perlu dilakukan beberapa 
pertemuan untuk menyegarkan dan mengingatkan kembali prinsip-prinsip penatalaksanaan
diabetes. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan adalah :
1. Berikanlah dukungan dan nasihat yang positif dan hindarilah kecemasan.
2. Berikanlah informasi secara bertahap, jangan beberapa hal sekaligus.
3. Mulailah dengan hal yang sederhana baru kemudian yang kompleks.
4. Pergunakanlah alat bantu dengar-pandang (audio visual) seperti set bahan informasi, slide, 
tape, vidio atau komputer.
5. Lakukanlah pendekatan dengan mengatasi permasalahan dan lakukanlah stimulasi.
6. Perbaikan ketaatan pasien dengan memberikan pengobatan sesederhana mungkin.
7. Lakukanlah kompromi dan negosiasi untuk mencapai tujuanyang dapat diterima pasien, dan 
jangan memaksakan tujuan kita pada pasien.
8. Lakukanlah motivasi dengan cara memberi penghargaan dan mendiskusikan hasil tes
Laboratorium.
PENYULUHAN UNTUK PENCEGAHAN PRIMER
Penyuluhan pencegahan primer perlu dilakukan pada masyarakat untuk meningkatkan
kepeduliannya (awareness) bahwa diabetes merupakan sutu problem kesehatan masyarakat dan 
dapat dicegah dengan mengontrol kegemukan dan meningkatkan kegiatan jasmani, terutama
pada individu dengan resiko tinggi.
Perencanaan kebijaksanaan bidang kesehatan harus mengerti implikasi sosio-ekonomik 
penyakit ini dan betapa vitalnya kedudukan penyuluhan dan edukasi dalam penatalaksanaan
diabetes, agar kemudian dapat dimotivasi untuk meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan bagi 
pasien diabetes.
Pada penyuluhan tingkat primer ini yang menjadi sasaran adalah orang sehat yang belum 
terdiagnosa diabetes, tetapi beresiko tinggi untuk terkena diabetes, misalnya anak-anak penderita 
diabetesdan sebagainya. Adapun materi penyuluhan yang perlu  disampaikan pada mereka adalah 
megenai faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya diabetes dan usaha untuk mengurangi 
faktor resiko tersebut.
PENYULUHAN UNTUK PENCEGAHAN SEKUNDER
Penyuluhan untuk pencegahan sekunder perlu diberikan pada mereka yang baru terdiagnosa 
diabetes, Kelompok pasien diabetes ini masih sangat perlu diberi pengertian mengenai penyakit 
diabetes supaya, mereka dapat mengendalikan penyakitnya mengontrol gula darah, mengantur 
makanan dan melakukan aktifitas olah raga sesuai dengan  keadaan dirinya sehingga padaakhirnya pasien akan merasa nyaman, karena bisa mengendalikan gula darahnya. Materi
penyuluhan pada tingkat pertama adalah:
ß Diabetes : Apakah itu diabetes mellitus.
ß Penatalaksanaan diabetes secara umum.
ß Obat-obat untuk mengontrol glukosa darah (tablet dan insulin).
ß Perencanaan makan dengan menggunakan bahan makanan penukar.
ß Diabetes dan kegiatan jasmani (olah  Raga).
Materi Penyuluhan pada tingkat lanjutan adalah:
ß Mengenal dan mencegah komplikasi akut diabetes.
ß Pengetahuan mengenai komplikasi kronik diabetes.
ß Penatalaksanaan diabetes selama menderita penyakit lain.
ß Pemeliharaan kaki diabetes.
PENYULUHAN UNTUK PENCEGAHAN TERSIER
Pada penyuluhan untuk pencegahan tersier subyek yang menjadi sasaran adalah mereka
yang sudah mengalami komplikasi. Jadi dalam hal ini yang sangat perlu disuluhkan pada pasien 
adalah :
ß Maksud, tujuan dan cara pengobatan pada komplikasi kronik diabetes.
ß Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan.
ß Kesabaran dan ketaqwaan untuk dapat menerima dan memanfaatkan  keadaan hidup dengan 
komplikasi kronik.
Dalam hal pengobatan pasien yang sudah mengalami komplikasi kronik, untuk mencapai 
tujuan pengobatan pasien harus bekerja sama dengan suatu Tim yang akan membantunya dalam 
proses pengobatan sehingga tujuan pengobatan nya dapat tercapai. Manajemen dilakukan oleh 
tim multi disiplin yang merupakan kelompok dari beberapa disiplin yang mempunyai tujuan yang 
sama dalam bidang kesehatan/diabetes. Tim ini terdiri dari dokter, perawat mahir/khusus
diabetes dan ahli diet. Setiap anggota tim bertanggu jawab atas pendapatannya dan
keputusannya dalam bidang masing-masing demi tercapainya tujuan pengobatan pasien.
TUJUAN PENYULUHAN
Penyuluhan kesehatan merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus menerus, 
yang kemajuannya harus terus diamati terutama kepada mereka yang memberi penyuluhan.
Pada umumnya kebutuhan akan penyuluhan kesehatan dideteksi oleh petugas kesehatan, untuk 
selanjutnya ditumbuhkan rasa membutuhkan pada pasien. Tujuan pendidikan kesehatan dengan 
metode penyuluhan pada pasien diabetes mellitus adalah meningkatkan pengetahuan mereka.
Pengetahuan akan menjadi titik tolak perubahan sikap dan gaya hidup mereka. Pada akhirnya 
yang menjadi tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku pasien dan meningkatnya kepatuhan 
yang selanjutnya akan meningkatkan kualitas hidup.
Untuk meningkatkan pengetahuan pasien diabetes mellitus dapat dilakukan perubahan
dengan memberikan pendidikan kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan Pasien.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang dicakup dalam 
domain kognitif mempunyai enam tahapan  yaitu: tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan 
penilaian kembali. Untuk dapat menjalani perilaku yang diinginkan seseorang harus melampui
semua tahap tersebut. Enam tahap tersebut merupakan suatu proses yang memerlukan waktu, 
dan lama proses tersebut tidak sama untuk setiap orang.
Untuk tercapai proses tersebut harus terjadi perubahan sikap pasien mengenai materi 
yang disuluhkan pada mereka. Mengubah sikap pasien bukanlah pekerjaan mudah, bahkan lebih 
sulit dari pada meningkatkan pengetahuan. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap stimulus objek. Sikap sebenarnya  merupakan bagian darikepribadian. Berbeda dengan perangai yang juga merupakan bagian kepribadian, sikap adalah 
kecenderungan yang tertata untuk berpikir, merasa dan berperilaku terhadap suatu referen atau 
objek kognitif. 
Suatu sikap belum tentu akan diwujudkan dalam bentuk suatu tindakan. Untuk
terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan yang nyata, diperlukan faktor pendukung atau 
suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Sebagai contoh seorang pasien 
yang telah mempunyai pengetahuan dan sikap yang baik terhadap keteraturan berolahraga,
mungkin tidak dapat dijalankan perilaku tersebut karena  keterbatasan waktu. Seorang pasien 
yang telah berniat untuk makan sesuai dengan rencana makan  yang telah dibuatnya sendiri, 
kadang-kadang keluar dari jalur tersebut karena situasi dirumah atau dikantor yang kurang
mendukung. Bila semua perilaku positif telah dilaksanakan semuanya, tentunnya pasien tersebut 
dapat dimasukkan kedalam kelompok pasien dengan kepatuhan tinggi, sehingga sebagai dampak 
kepatuhannya penyakit diabetesnya dapat terkendali.
Apabila pasien telah menjalankan perilaku yang diinginkan dan telah digolongkan didalam 
kelompok dengan kepatuhan tinggi, perilaku-perilaku tersebut harus dipertahankan. Tatap muka 
dengan penyuluhan tetap harus dilakukan secara teratur, walaupun frekuensinya dapat dikurangi. 
Di dalam pertemuan tersebut dapat dibahas berbagai aspek kehidupan pasien yang berhubungan 
dengan diabetes, baik yang diungkapkan sendiri oleh pasien atau dimulai oleh penyuluhan.
Pengetahuan tentang hal-hal tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien 
beserta keluarganya.
PENETAPAN TUJUA N UMUM DAN KHUSUS 
Dalam penyuluhan diabetes sebelum kegiatan dilakukan terlebih dahulu harus ditetapkan 
apa tujuan yang ingin dicapai dari hasil penyuluhan tersebut, jadi disini harus jelas mengenai 
tujuan umum dan tujuan khusus yang ingin dicapai. Pada tujuan umum biasanya yang
menyangkut seluruh prioritas masalah yang akan dilakukan penyuluhan kesehatan. Sedangkan
pada tujuan khusus disini merupakan uraian dari tujuan umum, ialah tujuan yang terkandung 
dalam setiap penyuluhan dan setiap masalah.
Perumusan tujuan tersebut haruslah dalam bentuk tujuan perilaku atau behavioral
objectives, yang memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tujuan tersebut harus dapat diukur (measurable)
2. Tujuan tersebut harus dapat diamati (observable)
3. Tujuan tersebut harus dapat  dicapai (reachable) yang dimaksud adalah tujuan tersebut harus 
dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Pada penyuluhan diabetes ini yang menjadi target penyuluhan atau sasaran adalah selain 
penderita, juga keluarga maupun orang-orang disekitar penderita yang sering atau hampir setiap 
hari berhubungan dengan penderita.
Dalam penyampaian penyuluhan perlu dilakukan dalam beberapa tahapan, misalnya
dapat dibagi dalam beberapa kegiatan yang berkesinambungan, misalnya:
a. Lokakarya mini:  Untuk menyiapkan tenaga penyuluh.
b. Uji coba lapangan : Mencoba ( try and error) sistem untuk metoda penyuluhannya.
c. Pelaksanaan kegiatan : Yang dapat meliputi pembuatan dan pemasangan poster, pembuatan 
leaflet/booklet serta siap dibagikan, wawancara, ceramah dan sebagainya.
SASARA N PENYULUHAN
Sebenarnya sasaran langsung penyuluhan diabetes adalah pasien diabetes beserta
keluarganya, tetapi untuk mencapai program yang berdaya guna dan sekaligus berhasil guna, 
kita perlu menentukan sasaran tidak langsung yang terdiri dari petugas kesehatan dan berbagai 
komunitas dimana pasien berada di dalam melakukan kegiatannya sehari-hari.Petugas kesehatan perlu secara berkesinambungan mendapat pendidikan cara
menangani pasien diabetes. Masalah di Indonesia yang juga menjadi masalah di negara-negara 
lain adalah kurangnya pengetahuan dokter tentang pengobatan mutakhir diabetes. Informasi
terbaru tentang penanganan diabetes sering terlambat sampai kepada dokter, terutama mereka 
yang tinggal dikota kecil dan daerah terpencil. 
Sasaran kedua adalah tim kesehatan/perawat yang bisa terdiri dari berbagai disiplin
misalnya perawat, ahli gizi, ahli fisioterapi, pekerja sosial bahkan perawat bedah dan ahli farmasi. 
Masing-masing anggota tim berfungsi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya dan kebutuhan
pasien pada saat konsultasi. Ditingkat rumah sakit tentunya tim tersebut dapat lebih lengkap, 
tetapi di Puskesmas, balai kesehatan masyarakat atau praktek pribadi, keberadaan tim yang
sederhana terdiri dari  2-3 orang sudah merupakan modal yang sangat berharga. Di dalam
pekerjaan sehari-hari, tentu saja tim ini harus bekerjasama dengan dokter.
Sasaran ketiga, adalah orang-orang yang beraktivitas bersama-sama dengan pasien
sehari-hari, baik dilingkungan rumah ataupun lingkungan lain misalnya lingkungan tempat
bekerja, lingkungan sekolah dan lain-lain. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang
mudah dijangkau, karena di Indonesia pada umumnya seseorang tinggal bersama-sama 
keluarganya. Lingkungan lain adalah lingkungan yang dapat berubah-ubah, tergantung pada 
aktivitas pasien. Lebih sulit untuk mencapai komunitas ini bila dibandingkan dengan keluarga,
karena lebih bervariasi dan dengan tempat tinggal yang berbeda-beda pula.
Penyuluhan bagi kelompok komunitas ini sangat penting dan menjadi tanggung jawab
dokter puskesmas, walaupun demikian dokter praktek pribadi atau edukator diabetes juga dapat 
berpartisipasi melakukan penyuluhan bagi kelompok ini. Pendidikan bagi kelompok ini  dapat
dilakukan melalui media masa setempat, brosur, leflet, atau bila tersedia dana dapat dilakukan 
tatap muka kelompok. 
Kelompok ini antara lain adalah kelompok dalam pekerjaannya sehari-hari paling mungkin 
untuk kontak dengan pasien diabetes mellitus  misalnya pemimpin perusahaan yang ada kontak 
langsung dengan karyawan yang perlu  mendapat penyuluhan sesuai dengan pekerjaannya yang 
dilaksanaan sehari-hari misalnya guru, karyawan penerbangan, polisi, karyawan pemadam
kebakaran. Karyawan rumah sakit, petugas yang bergerak di dalam bidang transportasi seperti 
misalnya sopir angkutan umum, pramugari dan sebagainya. Dengan memberi penyuluhan
diabetes kepada kelompok tersebut, diharapkan mereka dapat membantu seorang pasien
diabetes pada saat kedaruratan.
KESIMPULAN
Penyuluhan merupakan dasar utama untuk pengobatan diabetes bagi pasien dan juga 
pencegahan diabetes bagi keluarga pasien serta masyarakat didalam komunitas tertentu. Pada 
dasarnya tujuan penyuluhan diabetes adalah perawatan mandiri, sehingga seakan-akan pasien 
menjadi dokternya sendiri dan juga mengetahui kapan dia harus memeriksakan dirinya kedokter  
atau anggota tim perawat lainnya untuk mendapatkan pengarahan yang lebih lanjut.
Dengan demikian dapat dikatakan penyuluhan diabetes adalah suatu proses pemberian 
pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes, yang diperlukan untuk  dapat merawat diri 
sendiri, mengatasi krisis, serta mengubah gaya hidupnya agar dapat  menangani penyakitnya
dengan sukses. Proses ini dilakukan untuk memungkinkan pasien  menjadi pemain yang paling 
aktif dalam menangani penyakit yang dideritanya.
Penyuluhan dapat dilakukan secara perseorangan atau kelompok, tergantung pada
fasilitas yang ada, baik fasilitas waktu, ruangan serta petugasnya. Walaupun demikian di dalam 
pemberian penyuluhan kepada pasien perlu diinggat  bahwa setiap pasien harus mendapat
penilaian mengenai kebutuhannya, mendapat perencanaan penyuluhan yang menyeluruh sesuai 
dengan kebutuhannya,  mendapat penyuluhan serta penilaian tindak lanjut yang dilakukan secara 
siklik sedemikian rupa sehingga pada akhirnya pasien akan terpenuhi kebutuhannya.
 Dalam penyuluhan diabetes  perlu diperhatikan metode penyuluhan dan materi yang
diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien pada saat itu, jadi dalam hal ini  kita harus perhatikan kelompok yang menjadi sasaran penyuluhan apakah anggota keluargan pasien 
diabetes,  atau pada pasien yang baru terdiagnosa diabetes maupun pada pasien yang sudah 
mengalami komplikasi.
 Dalam hal ini kita harus membaginya menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok anggota 
keluarga pasien diabetes perlu diberikan penyuluhan untuk pencegahan primer, Kelompok pasien 
yang baru terdiagnosa perlu diberikan penyuluhan untuk pencegahan sekunder, dan untuk pasien 
yang sudah mengalami komplikan perlu mendapatkan penyuluhan pencegahan tersier.
DAFTAR PUSTAKA
Soedjono, R.S., dkk., 1986. Diabetes Mellitus, Aspek klinik dan Epidemiologi, Airlangga 
University Press, Surabaya.
Basuki, E. dkk, 1995. Buku Acuan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Bagi Dokter Puskesmas,
Dokter Praktek Umum dan Edukator Diabetes. Pusat Diabetes dan Lipid RSUPN DR. Cipto 
Mangun Kusumo Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Notoatmodjo, S., 1997. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi
Offset, Yogyakarta.
Sugondo, S. 1995 Penyuluhan Sebagai Komponen Terapi Diabetes Dan Penatalaksanaan
Terpadu, Editor: Sidartawan Sogondo, Pradana Suwondo, Iman Subekti, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Clement, S. 1995. Diabetes Self-Management Education. Diabetes Care 18:1204-1214.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar